Click 2 [x] to close
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal


  • Buy and sell Text Links
  • LINKS


  • eXTReMe Tracker

    Free SEO Tools


sidenreng.com

Free Medical Articles, Downloads, Informations, News, Guides, Tips and Tricks, and more

Kumpulan Soal-soal Ujian Kompetensi Dokter (Part II)

1. Seorang perempuan berusia 32 tahun yang menderita diabetes mellitus tipe 1 mengalami gagal ginjal progresif dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dialisis belum dilakukan pada pasien ini. Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan tanda-tanda abnormalitas. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin = 9 g/dl, hematokrit = 28 %, menunjukkan?m3. Apus darah tepi dan MCV 94 normositer dan normokromik. sel-sel eritrosit Manakah jawaban di bawah ini yang paling mungkin sebagai penyebab kondisi pasien tersebut ?
A) Perdarahan akut
B) Leukemia limfositik kronik
C) Anemia Sideroblast
D) Defisiensi erythropoietin
E) Defisiensi enzim eritrosit

6. LAki-laki, 60 tahun berdebar, badan mengurus, nafsu makan meningkat, mudah emosi, keringat meningkat, sulit tidur.
a.hipertiroid
b.hipotiroid
c.Diabetes Melitus
d.Diabetes Insipidus
e.Sindroma Cushing

7.Laki-laki, 24 tahun, terdapat benjolan di leher depan, tidak sakit. Orang sekampung memiliki sakit yang sama seperti ini.
a.Defisiensi Krom
b.Defisiensi vit B1
c.Defisiensi Iodium
d.Oklusi kelenjar lemak
e.Tumor kelenjar getah bening

8.25 tahun, demam, linu, memakai putow 5 th, 3x/hari dan lemes. 5 jam yg lalu pasien gelisaah, keluar ingus banyak, Keadaan manakah yang sesuai dengan kondisi diatas….
a.Sindroma Withdrawal
b.Overdosis
c.Keracunan kronik
d.Adiksi
e.Toleransi

9.Keadaan manakah yang paling sesuai untuk penggunaan putow pada kasus:
a.Adiksi
b.Toleransi
c.Abstinensia
d.Sugesti
e.Overdosis baca selengkapnya

26 June 2008 at 14:23 - Comments
tolong dong kirim jawabannya di email saya dari part 1 sampe part 3..makasih banyak
7 December 09 at 09:47
JEAN
Blh minta kunci jawaban PART 1 - 3 ke email saya?? sebelumnya terima kasih banyak
28 December 09 at 13:53

Kumpulan Soal-soal Ujian Kompetensi Dokter (Part I)

TRY OUT TANGGAL 12 JANUARI 2008

1. Wanita 22 tahun tidak sadarkan diri. Penderita berasal dari Kupang yang baru tinggal di Jakarta selama 1 tahun. Diketahui, ia 1 bulan yang lalu pulang ke Kupang NTT dan baru kembali ke Jakarta 1 minggu yang lalu. Dari keadaan pasien di atas dapat disimpulkan
A. Imunitas ……….
B. Imunitas bersifat protektif
C. Imunitas didominasi oleh imun humoral
D. Imunitas dibentuk dengan cepat
E. Imunitas hilang dengan cepat

2. Seorang wanita 37 tahun datang dengan keluhan keputihan seperti susu kental. Gatal pada kemaluan, berulang. Pasien juga menderita DM. Pemeriksaan fisik normal. Status lokalis regio vagina dan perineum hiperemis, bercak-bercak putih, flour albus putih kental. Untuk penegakkan diagnosis, pemeriksaan apa yang sebaiknya dilakukan?
A. Sediaan basah usap vagina
B. Biopsi
C. ……….
D. Biomolekuler
E. Serologi

3. Pada pemeriksaan hepatitis B yang diperiksa adalah
A. Antibodi anti Hbe
B. Antibodi anti Hbs
C. Antibodi anti Hbc
D. Hbc
E. ……….

4. Wanita 11 tahun, tonsil T3 hiperemis, berselaput, unilateral
A. ADS + Penicilin
B. ADS
C. ADS + Vit C dosis tinggi
D. Penicilin + Vit C dosis tinggi
E. Penisilin Baca Selengkapnya

25 June 2008 at 14:23 - Comments
soal ukpd mulai tahun berapa y
28 January 10 at 09:42
gives you utilize a superb internet site decent Supplies supplies wrote this doing work challenging to guideline myself
15 December 10 at 07:11

Berbagai jenis Imunisasi

“Lindungi diri anda dan keluarga dari serangan berbagai penyakit yang berbahaya”
Data statistik menunjukkan makin banyak penyakit menular bermunculan dan senantiasa mengancam kesehatan anda. Jangan biarkan anak anda dan diri anda sendiri terserang oleh infeksi yang dapat membahayakan hidup anda. Lindungi anda dan keluarga dari infeksi dengan melalui vaksinasi terkontrol.

“Pencegahan lebih baik dari pada mengobati”
Setiap tahun diseluruh dunia, ratusan ibu anak-anak dan dewasa meninggal Karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi tentang pentingnya Imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak usia muda yang bersekolah dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi terserang penyakit-penyakit menular yang mematikan seperti ; Diferi, Tetanus, Hepatitis B, Influenza, Typhus, Radang selaput otak, Radang paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya yang sewaktu-waktu muncul dan mematikan. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar bayi-bayi, anak-anak muda dan orang dewasa terlindungi hanya dengan melakukan Imunisasi.
Mengapa perlu Imunisasi?

Untuk melindungi tubuh agar tetap sehat dan bahagia selalu

Siapa yang perlu Imunisasi?

¤ Bayi dan anak balita, anak sekolah, remaja
¤ Orang tua, manula
¤ Top management / Executive perusahaan
¤ Calon jemaah haji/umroh
¤ Anda yang akan bepergian ke luar negeri
¤ Dll.

MACAM-MACAM IMUNISASI

  • B C G ( BACILLUS CALMETTE-GUERIN )

BCG VaccinePemberian Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis ( TBC ), Imnunisasi ini diberikan hanya sekali sebelum bayi berumur dua bulan. Reaksi yang akan nampak setelah penyuntikan imunisasi ini adalah berupa perubahan warna kulit pada tempat penyuntikan yang akan berubah menjadi pustula kemudian pecah menjadi ulkus, dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8 – 12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut, reaksi lainnya adalah berupa pembesaran kelenjar ketiak atau daera leher, bial diraba akan terasa padat dan bila ditekan tidak terasa sakit. Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa pembengkakan pada daerah tempat suntikan yang berisi cairan tetapi akan sembuh spontan. (more..)

16 June 2008 at 12:15 - Comments
abed
penyakit di negara kita sangat banyak dan langka perlulah pemerintah memperhatikan masalah ini dengan serius..........................?
10 January 10 at 04:59
nabawi
gambarnya bagus, bisa untuk penyuluhan trims ya....
21 May 10 at 07:26

Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia

Ketut Sudhaberata
UPF. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Rumah Sakit Umum Tarakan
Kalimantan Timur

ABSTRAK

pre-eklampsiaPreeklampsia berat (PEB) dan eklampsia masih merupakan salah satu penyebab utama kematian maternal dan perinatal di Indonesia. Mereka diklasifikasikan kedalam penyakit hypertensi yang disebabkan karena kehamilan. PEB ditandai oleh adanya hipertensi sedang-berat, edema, dan proteinuria yang masif. Sedangkan eklampsia ditandai oleh adanya koma dan/atau kejang di samping ketiga tanda khas PEB. Penyebab dari kelainan ini masih kurang dimengerti, namun suatu keadaan patologis yang dapat diterima adalah adanya iskemia uteroplacentol. Diagnosis dini dan penanganan adekuat dapat mencegah perkembangan buruk PER kearah PEB atau bahkan eklampsia. Semua kasus PEB dan eklampsia harus dirujuk ke rumah sakit yang dilengkapi dengan fasilitas penanganan intensif maternal dan neonatal, untuk mendapatkan terapi definitif dan pengawasan terhadap timbulnya komplikasi-komplikasi.
Kata kunci: Preeklampsia berat, eklampsia, iskemia uteroplasenta, hipertensi, edema, proteinuri, kejang dan/atau koma.

PENDAHULUAN

Di Indonesia preeklampsia-eklampsia masih merupakan salah satu penyebab utama kematian maternal dan kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini pre-eklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan anak(1,2). Perlu ditekankan bahwa sindrom preeklampsia ringan dengan hiper-tensi, edema, dan proteinui sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan; pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda preeklampsia sangat penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain. (more..)

15 June 2008 at 12:15 - Comments
felly
salam kenal. mbak makasi atas info PE nya. sekalian minta ijinnya tuk saya ambil untuk kelngkapan materi LP saya.trima kasih
6 October 09 at 11:01
aina
kalo refrensi yang 2000 keatas punya saran gag?? makasih. . . . .
2 June 10 at 06:24

KERACUNAN MINYAK TANAH

Karakteristik Minyak Tanah :
Minyak tanah (kerosene) merupakan cairan bahan bakar yang jernih, tidak berwarna, tidak larut dalam air, berbau, dan mudah terbakar. Termasuk dalam golongan petrolium terdistilasi hidrokarbon. Memiliki berat jenis 0,79. Titik didih 163oC – 204oC, titik beku –54oC.

Efek Toksik Minyak Tanah
Efek pada paparan akut minyak tanah :
Kontak kulit : kering, dapat iritasi, menyebabkan rash
Absorbsi kulit : jarang
Kontak mata : iritasi, dapat menyebabkan kerusakan permanen
Inhalasi : iritasi, sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi
Ingesti : sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi
Efek pada paparan kronis minyak tanah :
Secara umum : kulit pecah-pecah, dermatitis, kerusakan hepar/kelenjar adrenal/ginjal, dan abnormalitas eritrosit
Karsinogenik : terlihat pada studi eksperimental pada tikus. Pada manusia tidak ada data yang tercatat
Sistem reproduksi : tidak ada data yang tercatat

Insiden Intoksikasi Minyak Tanah :
Terutama pada anak-anak < 6 tahun. Khususnya pada negara-negara berkembang.
Daerah perkotaan > daerah pedesaan
Pria > wanita
Umumnya terjadi karena kelalaian orang tua
Baca Selengkapnya

2 June 2008 at 07:28 - Comments

DIABETES MELITUS DAN PENATALAKSANAANYA

Abstrak

Penyakit diabetes melitus (DM) adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang, disebabkan karena adanya peningkatan kadar gula atau glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Apabila penyakit ini dibiarkan tidak terkendali, akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang dapat berakibat fatal. Hal ini tidak akan terjadi apabila DM diketahui lebih awal dan penderita patuh terhadap pengobatan yang ditetapkan. Terdapat empat pilar penatalaksanaan penderita DM agar dapat menikmati hidupnya dengan nikmat yaitu: penyuluhan, perencanaan makan, latihan jasmani dan Obat berkhasiat hipoglikemik

A. Definisi
Diabetes Melitus berasal dari kata diabetes yang berarti kencing dan melitus dalam bahasa latin yang berarti madu atau mel (Hartono, 1995). Penyakit ini merupakan penyakit menahun yang timbul pada seseorang disebabkan karena adanya peningkatan kadar gula atau glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2002).
DM tipe II adalah DM yang pengobatannya tidak tergantung pada insulin, umumnya penderita orang dewasa dan biasanya gemuk serta mudah menjadi koma (Soesirah, 1990).

B. Etiologi
Diabetes Mellitus dibedakan menjadi dua yaitu Tipe I atau IDDM ( Insulin-Dependen DM) dan Tipe II atau NIDDM (Non Insulin-Dependent DM). DM tipe I atau IDDM terjadi akibat kekurangan insulin karena kerusakan sel beta pankreas (Moore,1997). Sedangkan DM tipe II disebabkan oleh berbagai hal seperti bertambahnya usia harapan hidup, berkurangnya kematian akibat infeksi dan meningkatnya faktor resiko akibat cara hidup yang salah seperti kegemukan, kurang gerak, dan pola makan yang tidak sehat (Suyono, 2002).

C. Patofisiologi
Insulin memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat, yaitu bertugas memasukan glukosa ke dalam sel dan digunakan sebagai bahan bakar. Insulin diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, yang kemudian di dalam sel tersebut glukosa akan dimetabolisme menjadi tenaga. Bila insulin tidak ada, maka glukosa tidak dapat masuk ke sel, yang mengakibatkan glukosa tetap berada di dalam pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat (Suyono,2002).
Pada DM tipe II, jumlah insulin normal atau mungkin jumlahnya banyak, tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat dalam permukaan sel berkurang. Akibatnya glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa di dalam pembuluh darah meningkat (Suyono, 2002).

D. Gejala
1) Gejala akut
Pada tahap permulaan, gejala yang ditunjukkan meliputi: banyak makan atau polifagia, banyak minum atau polidipsia, dan banyak kencing atau poliuria. Pada fase ini, biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus naik, karena pada saat ini jumlah insulin masih mencukupi (Tjokroprawiro, 2001).
2) Gejala Kronik
Gejala kronik yang sering timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal dikulit, kram, lelah, mudah mengantuk, mata kabur, gatal disekitar kemaluan terutama wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun, pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg (Tjokroprawiro, 2001).

E. Diagnosis
Menurut Suyono (2002), diagnosis diabetes dipastikan bila:
1). Kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dL atau lebih ditambah gejala khas diabetes.
2). Glukosa darah puasa 126 mg/dL atau lebih pada dua kali pemeriksaan pada saat berbeda.
Bila ada keraguan, perlu dilakukan tes toleransi glukosa oral (TTGO) atau yang populer disebut OGTT (Oral Glukose Tolerance Test) dengan mengukur kadar glukosa puasa dan 2 jam setelah minum 75 g glukosa (Suyono, 2002).

F. Komplikasi
Komplikasi DM dapat muncul secara akut dan kronik.
1) Komplikasi Akut
a) Reaksi Hipoglikemia
Reaksi hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat tubuh kekurangan glukosa, dengan tanda-tanda: rasa lapar, gemetar, keringat dingin, pusing. Jika keadaan ini tidak segera diobati, penderita dapat menjadi koma. Karena koma pada penderita disebabkan oleh kekurangan glukosa di dalam darah,maka koma disebut “Koma Hipoglikemik”.
b) Koma diabetik
Koma diabetik timbul karena kadar glukosa di dalam darah terlalu tinggi, dan biasanya lebih dari 600 mg/dL. Gejala yang sering timbul adalah: nafsu makan menurun, haus, minum banyak, kencing banyak, disusul rasa mual, muntah, nafas penderita menjadi cepat dan dalam serta berbau aseton, dan sering disertai panas badan karena biasanya terdapat infeksi (Tjokroprawiro, 1998).

2) Komplikasi Kronis
Menurut Pranadji (2000), komplikasi kronis meliputi:
a. Komplikasi mikrovaskuler
• Komplikasi mikrovaskuler adalah komplikasi pada pembuluh darah kecil, diantaranya:
• Retinopati diabetika, yaitu kerusakan mata seperti katarak dan glukoma atau meningkatnya tekanan pada bola mata. Bentuk kerusakan yang paling sering terjadi adalah bentuk retinopati yang dapat menyebabkan kebutaan.
• Nefropati diabetika, yaitu gangguan ginjal yang diakibatkan karena penderita menderita diabetes dalam waktu yang cukup lama.
• Neuropati diabetika yaitu gangguan sistem syaraf pada penderita DM. Indera perasa pada kaki dan tangan berkurang disertai dengan kesemutan, perasaan baal atau tebal serta perasaan seperti terbakar.

b. Komplikasi makrovaskuler
Komplikasi makrovaskuler adalah komplikasi yang mengenai pembuluh darah arteri yang lebih besar, sehingga menyebabkan atherosklerosis. Akibat atherosklerosis antara lain timbul penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, dan gangren pada kaki.
G. Penatalaksanaan
Pengobatan DM menurut Perkeni (1998) dikenal dengan empat pilar utama pengelolaan DM, yang meliputi :.
1) Penyuluhan
Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes, yang bertujuan menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan pemahaman pasien tentang penyakit DM, yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat yang optimal (Perkeni,1998). Sukardji (2002) mengatakan bahwa penyuluhan sangat diperlukan agar pasien mematuhi diet.

2) Perencanaan makan
a) Tujuan diet
Menurut Pranadji (2000), tujuan diet DM adalah membantu diabetesi atau penderita diabetes memperbaiki kebiasaan gizi dan olah raga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, serta beberapa tujuan khusus yaitu:
(1) Memperbaiki kesehatan umum penderita,
(2) Memberikan jumlah energi yang cukup untuk memelihara berat badan ideal atau normal.
(3) Memberikan sejumlah zat gizi yang cukup untuk memelihara tingkat kesehatan yang optimal dan aktivitas normal.
(4) Menormalkan pertumbuhan anak yang menderita DM.
(5) Mempertahankan kadar gula darah sekitar normal.
(6) Menekan atau menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik.
(7) Memberikan modifikasi diet sesuai dengan keadaan penderita, misalnya sedang hamil, mempunyai penyakit hati, atau tuber kolosis paru.
(8) Menarik dan mudah diterima penderita.

b) Prinsip Diet
Prinsip pemberian makanan bagi penderita DM adalah mengurangi dan mengatur konsumsi karbohidrat sehingga tidak menjadi beban bagi mekanisme pengaturan gula darah. (Pranadji, 2000).
c) Syarat Diet
Menurut Pranadji (2000), syarat diet DM antara lain:
(1) Jumlah energi ditentukan menurut umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan, aktivitas, suhu tubuh dan kelainan metabolik.
Untuk kepentingan klinik praktis, kebutuhan energi dihitung berdasarkan status gizi penderita, dengan rumus Broca, yaitu :
BB idaman = (TB – 100) – 10%
Status gizi : – Berat badan kurang = 120% BB idaman
Jumlah energi yang dibutuhkan =
Laki-laki: BBI x (30 kkal/kg BB) + Aktivitas (10-30%) + koreksi status gizi
Perempuan: BBI x (25 kkal/kg BB) + Aktivitas (10-30%) +koreksi status gizi
Koreksi status : – gemuk dikurangi
- kurus ditambah (Perkeni, 1998)
(2) Hidrat arang diberikan 60-70% dari total energi, disesuaikan dengan kesanggupan tubuh untuk menggunakannya.
(3) Makanan cukup protein dianjurkan 12% dari total energi.
(4) Cukup vitamin dan mineral.
(5) Pemberian makanan disesuaikan dengan macam obat yang diberikan (Persagi, 1999).
(6) Lemak dianjurkan 20–25% dari total energi.
(7) Asupan kolesterol hendaknya dibatasi, tidak lebih dari 300/mg perhari.
(8) Mengkonsumsi makanan yang berserat,anjuranya adalah kira-kira 25g/hari dengan mengutamakan serat larut.

d) Makanan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan
Semua bahan makanan boleh diberikan dalam jumlah yang telah ditentukan kecuali gula murni seperti terdapat pada: gula pasir, gula jawa, gula batu, sirop, jam, jelly, buah-buahan yang diawet dengan gula, susu kental manis, minuman botol ringan, es krim, kue-kue manis, dodol, cake, tarcis, abon, dendeng, sarden dan semua produk makanan yang diolah dengan gula murni.

e) Macam diet
Menurut Persagi (1999), pedoman diet bagi penderita DM dapat dilihat seperti dalam Tabel 1.
Tabel 1.
MACAM DIET UNTUK PENDERITA DM
Macam Diet            I          II        III         IV       V        VI        VII      VIII

Energi (kal)         1100   1300   1500   1700   1900   2100   2300   2500

Protein (gr)            50       55       60       65      70       80        85      90

Lemak (gr)             30       35       40       45      50       55        65      65

Hidrataran (gr)     160     195     225     260    300      325     350     390

Sumber : Persagi, 1999

Diet I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk
Diet IV s/d V : diberikan kepada penderita yang mempunyai berat badan normal
Diet VI s/d VIII : diberikan kepada penderita yang kurus, diabetes remaja atau juvenille diabetes serta diabetes dengan komplikasi.

f) Standar diet
Untuk perencanaan pola makan sehari, pasien diberi petunjuk berupa kebutuhan bahan makanan setiap kali makan dalam sehari dalam bentuk penukar. Makanan sehari-hari pasien dapat disusun berdasarkan pola makan pasien dan daftar bahan makanan penukar (Sukardji, 2002).

g) Daftar Bahan Makanan Penukar
DBMP adalah suatu daftar yang memuat nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikelompokan berdasarkan kandungan energi, protein, lemak dan hidrat arang. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama (Sukardji, 2002).

h) Pedoman diet
Dalam melaksanakan diet diabetes sehari-hari, hendaknya pasien mengikuti pedoman “3J” yaitu tepat jumlah, jadwal dan jenis, artinya J1: energi yang diberikan harus habis, J2: Jadwal diet harus diikuti sesuai dengan interval yaitu 3jam, J3: Jenis makanan yang manis harus dihindari, termasuk pantang buah golongan A(Tjokroprawiro, 1998).

3) Latihan Jasmani
Latihan jasmani dianjurkan secara teratur yaitu 3-4 kali dalam seminggu selama kurang lebih 30 menit yang sifatnya CRIPE (Continuous, rhytmical, interval, progresife, endurance training) (Perkeni, 1998). Menurut Haznam (1991) olahraga dianjurkan karena bertambahnya kegiatan fisik menambah reseptor insulin dalam sel target. Dengan demikian insulin dalam tubuh bekerja lebih efektif, sehingga lebih sedikit obat anti diabetik (OAD) diperlukan, baik yang berupa insulin maupun OHO (Obat Hipoglikemik Oral).

4) Obat berkhasiat hipoglikemik
Pada prinsipnya, pengendalian DM melalui obat ada 2 yaitu :
(1) Obat Anti Diabetes (OAD) atau Obat Hipoglikemik Oral (OHO) yang berfungsi untuk merangsang kerja pankreas untuk mensekresi insulin.
(2) Suntikan insulin. Pasien yang mendapat pengobatan insulin waktu makanannya harus teratur dan disesuaikan dengan waktu pemberian insulinnya. Makan selingan diberikan untuk mencegah hipoglikemia (Perkeni, 1998).

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, 2002 dalam Soegondo. Penyuluhan Diabetes Melitus. Jakarta: FKUI.

Green, Lawrence W., et al. 1980. Health Education Planning Adiagnostic Approach. First Edition. California: Mayfield Publishing Company.

Hartono Andry. 1995. Tanya Jawab Diet Penyakit Gula. Jakarta: Arcan.

Haznam. 1991. Endokrinologi. Bandung: Angkasa Offset.

Kelompok Studi WHO. 2000. Pencegahan Diabetes Mellitus. Jakarta: Hipokraket.

Leslie. R.D.G. 1995. Buku Pintar Kesehatan. Diabetes. Jakarta: Arcan.

Margatan Arcole. 2000. Kiat Sehat Bagi Diabetesi. Solo: CV. Aneka.

Moehyi Sjahmien. 1999. Pengaturan Makanan dan Diet untuk Penyembuhan Penyakit. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Niven, Neil. 2002. Psikologi Kesehatan. Jakarta: Buku Kesehatan.

Perkani. 1998. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia. Semarang.

Pranadji Diah K. 1997. Perencanaan Menu untuk Diabetes Melitus. Jakarta: Penebar Swadaya.

Smet. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Gramedia Indonesia.

Soegondo Sidartawan, dkk. 2002. Diabetes Melitus Penatalaksanaan Terpadu. Jakarta: FKUI.

Soewondo. 1994. Simposium Dini Hidup Sehat Diabetes Mellitus. Jakarta: FKUI.

Subekti, 2002 dalam Soegondo. Patofisiologi Diabetes. Jakarta: FKUI.

Sukardji, 2002 dalam Soegondo. Penatalaksanaan Gizi pada Diabetes Melitus. Jakarta: FKUI.

Suyono, 2002 dalam Soegondo. Kecenderungan Peningkatan Jumlah Pasien Diabetes. Jakarta: FKUI.

Thomas, Briony. 1994. Manual of Dietetic Practice, Second Edition. Inggris: British Dietetic.

Tjokroprawiro, Askandar. 2001. Diabetes Mellitus-Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tjokroprawiro, Askandar. 2001. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

1 June 2008 at 06:57 - Comments
situsnya bagus nih...... sering2 update yah jadi biar tambah bermanfaat salam dari kami
6 October 11 at 14:47
Makasih, salam balik yah...
3 November 11 at 14:21

Terapi baru untuk berhenti merokok

Dalam 5 x 25 menit, kecanduan merokok bisa hilang dengan melakukan terapi SEFT (Spiritual, Emotional, Freedom, Technique). Terapi yang dilakukan dengan mengetuk ringan dengan 2 ujung jari atau yang disebut tapping di bagian tubuh tertentu, sehingga bisa kita lakukan sendiri.

Awalnya, pecandu diminta untuk mencium bau rokok yang biasa dihisapnya, ini adalah langkah awal yang disebut dengan the set-up yang bertujuan untuk memastikan agar aliran energi tubuh kita terarahkan dengan tepat. langkah ini dilakukan untuk menetralisir pikiran negatif yang spontan dari mencium bau rokok itu, yang pasti para perokok masih ingin menghisapnya. Setelah itu terapis akan menekan dada kita, tepatnya di sekitar dada atas.

Kemudian, terapis akan akan melakukan tapping di titik-titik tubuh yang merupakan titik aliran energi kita, yang jika diketuk beberapa kali akan berdampak pada ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita rasakan. Titik-titik tersebut adalah bagian atas kepala, titik permulaan alis mata, diatas tulan di samping mata, 2 cm di bawah kelopak mata, tepat di bawah hidung, diantara dagu dan bagian bawah bibir, di ujung tempat bertemunya ulang dada, di bawah ketiak, di perbatasan antara tulang dada dan bagian bawah payudara, dan di bagian dalam tangan yang berbatasan dengan telapak tangan.

Setelah tapping selesai, perokok diminta untuk mencium bau rokok kembali, lalu menghisapnya. Alhasil, mereka mengatakan Pusing, pahit, getir dan tidak mau mengisap lagi.

Seperti yang dilakukan para terapis SEFT dalam acara Stop Rokok Buat Hidupmu di Aula Wisma Menpora, Sabtu (31/5). Mereka melakukan terapi untuk menghentikan kebiasaan dan kecanduan merokok para siswa SMP-SMA yang sudah menjadi perokok.

“Baru tadi pagi saya terakhir merokok, setelah diterapi seperti ini, kok tiba-tiba rokok yang tiap hari saya hisap rasanya aneh, pahit dan getir, baunya juga tidak enak. “Semoga ini bertahan lama, saya niat tidak mau merokok lagi,” ujar Yanto (20), yang bera sal dari Bogor salah satu perokok yang mengikuti terapi tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, penemu metode SEFT Ahmad Faiz Zainuddin mengungkapkan bahwa SEFT tidak hanya mampu menghilangkan kecanduan merokok, tapi bisa juga menghilangkan stres, phobia, alergi, trauma, dan lain-lain.”SEFT sangat universal dan sangat mudah dilakukan,” ujar Faiz

*) Sumber kompas.com

1 June 2008 at 01:49 - Comments
Gibran
dimana saya bisa mengikuti terapi SEFT
18 January 09 at 16:10
annafarida
bagaimana melakukan sendiri, terutama menmpatkan titik tersebut, bisakah dibantu dalam bentuk video
10 June 09 at 17:41

Adjuvant Chemotherapy for Lung Cancer — A New Standard of Care

*) Ronald H. Blum, M.D.

In patients with cancer who undergo surgery with curative intent but who are known to be at risk for a recurrence, postoperative chemotherapy increases the chance of a cure. The basis of this adjuvant therapy rests on demonstrations in animal models that the presence of a small residual tumor rather than a large tumor is associated with a greater fraction of tumor cells that are growing, a greater fractional rate of cell death, a lower likelihood that tumor cells are drug resistant, and a higher cure rate. Subsequent clinical investigations have established proof of these principles for adjuvant chemotherapy in cancers of the breast, colon, and stomach, among others. But in the case of lung cancer — which is of particular importance, given the high associated mortality rate worldwide — randomized trials have not, until now, shown a statistically significant benefit of adjuvant chemotherapy after complete resection of non–small-cell lung cancer.

In this issue of the Journal, the International Adjuvant Lung Cancer Trial (IALT) Collaborative Group unequivocally concludes that “cisplatin-based adjuvant chemotherapy improves survival among patients with completely resected non–small-cell lung cancer.”1 In this study of 1867 patients who were randomly assigned to adjuvant treatment or observation, the primary end point of overall survival was significantly higher in the adjuvant-chemotherapy group (P<0.03), with a hazard ratio for death of 0.86 (95 percent confidence interval, 0.76 to 0.98) and an absolute increase in the five-year survival rate of 4.1 percent. (more..)

31 May 2008 at 06:50 - Comments

Acute Chemical Emergencies

Stefanos N. Kales, M.D., M.P.H., and David C. Christiani, M.D., M.P.H.

Acute chemical emergencies can occur as a result of an industrial disaster,1,2 occupational exposure,3,4 recreational mishap,5 natural catastrophe,6 chemical warfare,7,8 and acts of terrorism.9,10 This article reviews the health effects most commonly associated with the short-term release of industrial and environmental substances and with the use of chemical weapons. We emphasize the application of empirical principles and the recognition of four clinical syndromes, or “toxidromes,” that are applicable to most scenarios of accidental release of chemicals and deliberate release as in acts of chemical terrorism. The classes of substances that correspond to these clinical syndromes are asphyxiants (e.g., cyanide), cholinesterase inhibitors (e.g., organophosphorus nerve agents), respiratory tract irritants (e.g., chlorine), and vesicants (e.g., mustard) (Table 1). The agents that cause each clinical syndrome require similar treatment.

Features of Selected Major Chemical Exposures

In accidental industrial releases, information about the presence of specific chemicals may be available from the personnel of the facility, safety officials, and other sources. In contrast, an act of terrorism is more likely to involve substances that cannot be immediately identified. Owing to the rapidity of the onset of similar symptoms in a group of persons or the close proximity of a group of persons to a release of hazardous materials, chemical exposures are more quickly recognizable than are exposures to biologic agents.11,12 However, in contrast to the period of latency that is associated with the effects of biologic agents, when serious chemical intoxication occurs, the window for effective therapy is often narrow. Furthermore, real-time identification of specific chemicals by means of environmental or clinical laboratory testing is difficult.13,14 (more..)

30 May 2008 at 06:50 - Comments

Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi

 *) Ashadi

 

PENDAHULUAN

Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihandari susunan saraf autonomic (SSA). Ansietas merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi. Sedangkan depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri.

 

ETIOLOGI

Penyebab gangguan ini kurang jelas. Gejala muncul biasanya disebabkan interaksi dari aspek-aspek biopsikososial termasuk genetik dengan beberapa situasi, stres atau trauma yang merupakan stressor muneulnya gejala ini. Di sistem saraf pusat beberapa mediator utama dari gejala ini adalah. norepinephrine dan serotonin. Sebenarnya anxietas diperantarai oleh suatu system kompleks yang melibatkan system limbic, thalamus, korteks frontal secara anatomis dan norepinefrin, serotonin dan GABA pada sistem neurokimia, yang mana hingga saat ini belum diketahui jelas bagaimana kerja bagian-bagian tersebut menimbulkan anxietas. Begitu pula pada depresi walapun penyebabnya tidak dapat dipastikan namun biasanya ditemukan defisensi relatif salah satu atau beberapa aminergic neurotransmitter (noeadranaline, serotonin, dopamine) pada sinaps neuron di susunan saraf pusat khususnya sistem limbic Baca Selengkapnya

22 May 2008 at 15:33 - Comments